Riwayat Sang MahaGuru --> Ibnu Khaldun


Abd. Ar-Rahman Abu Zaid Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn Jabir Ibn Khaldun (lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan meninggal di Kairo tanggal 25 Ramadhan 802 H/ 19 Maret 1406 M.

Ibnu Khaldun keturunan Arab tulen, nenek moyangnya dari Yaman yakni Handramaut, Yaman Selatan. Yang kemudian melakukan imigrasi ke Spanyol (Andalusia) abad ke delapan, melalui peperangan yang sangat sengit semasa pemerintahan Dinasty Umayyah kemudian meninggalkan Spanyol dan terakhir menetap di Tunisia.

Latar belakang keluarganya, dan saat ia dilahirkan sangat menentukan dalam perkembangan pemikirannya. Keluarganya telah mewariskan tradisi intelektual ke dalam dirinya. Sedangkan semasa hidupnya yang ditandai oleh jatuh bangunnya dinasti-dinasti Islam, terutama dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah memberikan kerangka berfikir dan teori-teori ilmu sosial serta filsafatnya, sebuah ciri khas yang melatarbelakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah berasal dari keluarga politis, dan intelektual dan antrokrat. Ayahnya bernama Abu Abdullah Muhammad. Ia berkecimpung dalam bidang politik. Kemudian mengundurkan diri dari bidang politik serta menekuni ilmu pengetahuan dan kesufian.

Ibnu Khaldun salah seorang ahli fikir Islam, sebagaimana para pemikir Islam lainnya, pendidikan masa kecilnya berlangsung secara tradisional. Ibnu Khaldun pertama sekali menerima pendidikan langsung dari ayahnya. Artinya ia harus belajar membaca Al-quran, Hadist, Fiqih, Sastra, Nahu Sharaf, juga mempelajari Tafsir, gramatika, ilmu mantiq dan filsafat, karena ayahnya sagat terkenal dan mahir dalam bidang ilmu tersebut, dengan sejumlah ulam Andalusia dan Tunisia.

Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama dan sastrawan di daerah Magrib. Khususnya kepada ayahnya, Ibnu Khaldun umur 17 tahun ayahnya wafat meninggalkan lima putra diantaranya Abd. Rahman (Ibnu Khaldun), Umar, Musa, Yahya dan Muhammad. Hidupnya yang berpindah-pindah dari Maroko ke Andalusia dan memberikan waktu luang dan mengarang. Diantara guru Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Abu Abdullah  Muhammad Ibnu Saad Ibn Burral al-Ansari, Syaikh.
Abu Abdullah Ibn al-Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwas al-Zarazali, Ahmad Ibn al-Qassar, Syaik Syams al-Din Abu Abdullah Muhammad al-Wadisyasyi, dan Muhammad Ibn Abd al-Salam.

Selanjutnya pada tahun 1362 Ibnu Khaldun menyebrang ke Spanyol dan bekerja pada raja Granada. Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro ( raja Granada) dan raja Castila di Sivilla. Karena ke cakapannya yang luar biasa, ia ditawari pula bekerja oleh penguasa Kristen saat itu. Sebagai imbalannya tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi dari tawaran-tawaran yang ada, ia akhirnya memilih tawaran untuk bekerja sama dengan raja Granada. kesanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika. Ia tidak lama tinggal di Granada. Ia selanjutnya kembali ke Afrika dan diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Sultan al-Jazair. Ketika antara tahun 1362-1375 terjadi pergolakan politik, menyebabkan Ibnu Khaldu terpaksa mengembara ke Maroko dan Spanyol.

Pada tahun 1382, ia melaksanakan ibadah haji. Setelah melaksanakan haji, ia kemudian berangkat ke Iskandariyah dan selanjutnya ke Mesir. Di Mesir, ia kemudian diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung pada masa pemerintahan Dinasti Mamluk. Selain dikenal sebagai filosof, Ibnu Khaldun dikenal sebagai sosiolog yang memiliki perhatian besar terhadap bidang pendidikan. Hal ini antara lain  terlihat dari pengalamannya sebagai pendidik yang berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya

Di Qastantin selatan, di benteng Ibnu Salamah, ia menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk menulis, ia selesaikan di tempat tersebut Muqadimahnya yang sangat terkenal. Waktu itu ia berumur 43 tahun. Ketika ia banyak memerlukan referensi lagi dan hal itu tidak mencukupi kecuali di Tunisia.

Pendidikan formal dilaluinya hanya sampai usia 17 tahun, seterusnya ia belajar sendiri meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya. Karena ketenarannya telah datang ke Mesir terlebih dahulu ia pun didaulat untuk mengajar fiqih mazhab Maliki. Sehingga pernah ia menjabat sebagai qahdi, diplomat, guru besar dan rektor Amaliyah, ketua hakim agung di Mesir selama 6 periode. Dan selama 40 tahun, inilah ia memanfaatkan sisa usianya untuk menulis, mengarang, mengembangkan dan mengabdika ilmu pengetahuan yang selama ini ditinggalkannya hingga meninggal dunia pada tahun 1406 M ia meninggal dunia di Mesir dalam usia 74 tahun.

Ketenaran Ibnu Khaldun sebagai ulama dapat dilihat dari karya monumentalnya Al-Muqaddimah. Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya Universitasnya yang berjudul Kitab Al-Ibar wa Diwan al-Mubdada’ wa al-Khabar fi ayyani al-Arab wa al-Ajam wa al – barbar wa man Asarahun min Dzami as sut than al-Akbar. (Buku Sejarah Kemajuan Bangsa Arab Ajam, Barbar dan Orang-Orang Sezaman dengan Mereka yang Memiliki Kekuasaan Besar).

Seluruh ilmunya dalam kitab Al-Muqadimmah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, ilmu pendidikan, politik, ekonomi, sastra, disamping itu juga ilmu Filsafat, tasawuf, metafisika yang termasuk kitab pertama yang merumuskan perkembangan sejarah manusia dengan metodologi ilmiah yang didasarkan pada riset mengenai berbagai faktor yang mampu memotivasi perkembangan manusia. Sementara kitab al-Ibrar merupakan bukti empiris historis dan teori yang dikembangkannya : Orientalis dan kedalaman pemikiran yang telah berhasil meletakkan karya Muqadimmah sebagai sebuah karya yang umum dan melampaui zamannya.

Sosok Syeikh Ibnu Taimiyah

Saling mengkafirkan antara sesama muslim adalah sarana utama untuk menggoyang kekuatan kaum muslimin, dan hal ini kadang disebabkan perbedaan pandangan tentang sosok dan pemikiran seorang tokoh.
Dalam hal ini, Syeikh Ibnu Taimiyah termasuk salah satu tokoh yang kontrofesi di kalangan umat Islam. Dengan dasar itulah penulis mencoba menjelaskan secara obyektif siapa dan bagaimana sosok ibnu taimiyah. Penulisan berdasarkan Qaidah. Ma`shum (terjaga) hanyalah bagi para Nabi, selain Rasulullah saw. pendapatnya bisa diterima dan bisa ditolak.  Penulisan ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan sosok Ibnu Taimiah, sebab masalah benar dan tidaknya Ibnu Taimiah itu adalah hak Allah swt.



Sekilas biografi Ibn Taimiyah
Ibnu taimiyah dilahirkan pada tanggal 10 R. Awal tahun 661 H. Dengan nama Ahmad bin Abdul Halim bin Abd Salam bin Taimiyah. Dia tumbuh dengan kecerdasan yang luar biasa, mula-mula dia belajar pada Ibn Abd Daim, al-Qasim al-Irbili, Muslim bin `Allan dan pada Ibn Abi Amr. Selanjutnya Ibnu Taimiyah mebaca sendiri ilmu keislaman tampa bimbingan seorang guru. Namun dengan berbekal kecerdasan yang tinggi Ibnu Taimiyah mampu mengalahkan yang lain. Adz-Dzahahabi menceritakan bahwa Ibnu Taimiyah sudah mempunyai kemampuan munâzharah (berdebad) sebelum masa baligh, dan mampu mengarang, mengajar serta berfatwa padahal umurnya belum memasuki 20 tahun, sehingga dalam usianya yang masih belia dia sudah di anggap sebagai pembesar Ulama? 

Keilmuan Ibnu Taimiyah
Tidak heran kalau saat dewasa Ibnu Taimiyah menjadi seorang yang berpengaruh karena kesalehan dan kemampuan intelektualnya melebihi kebanyakan manusia. Ibnu Hajar Al-Asqalani menuturkan panjang lebar tentang ilmu Ibnu Taimiyah melalui tulisan Al-Hafid Al-Dzahabi, murid Ibnu Taimiyah. Menurut adz-Dzahabi seorang yang melihat kehebatan Ibnu Taimiyah dalam masalah khilafiyah, maka ia akan heran dan kagum, Ibnu Taimiyah mampu mentarjih dan membandingkan segala perbedaan dengan argument yang kuat, dia berhak berijtihad sendiri karena syarat-syarat mujtahid telah dipenuhi. Tidak kutemukan seorang yang lebih cepat melebihi Ibnu Taimiyah dalam mengeluarkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai dalil dalam suatu masalah, hadits-hadits Nabi seakan akan berada di depan mata dan di ujung lidahnya, disamping itu ia mampu mentafsiri Al-Qur’an dengan luas. Adapun falam masalah ideologi berbagai aliran maka dia tiada berdebu. Sedang sifatnya sangat dermawan, pemberani dan tidak pernah menyimpan dendam. Kata-kataku ini akan dianggap kurang oleh pendukungnya dan akan dianggap berlebihan oleh para penentangnya. 

Ibnu Taimiyah dan Tasawuf
Sering kita mendengar bahwa Ibnu Taimiyah itu anti tasawuf dan penentang sufi, padahal kalau diperhatikan dari sikap dan pandangannya dia adalah seorang sufi dan pengikut ajaran tasawuf suni (yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah), meskipun ia tidak mengistilahkan ajaran tasawuf dengan istilah tersebut. Istilah yang sering dipakai oleh Ibnu Taimiyah adalah istilah suluk, akan tetapi substansinya adalah apa yang ada pada ajaran tasawuf.
Suluk menurut Ibnu Taimiyah merupakan kewajiban setiap mukmin, seperti yang diungkapkannya dalam kitab Fatawanya. “Suluk adalah jalan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya berupa itikad, Ibadah dana Akhlak. Semua ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunah, dan suluk ini kedudukannya seperti makanan yang menjadi keharusan seorang mukmin”. 
Diantara kata-kata Ibnu Taimiyah mengenai tasawuf adalah “amal-amal hati yang diberi nama maqâmât dan ahwâl seperti: cinta kepada Allah dan Rasulnya, tawakal, Ikhlas, sabar, syukur, khauf dan semacamnya adalah kewajiban setiap maklhuk, baik kaum khâs atapun orang-orang awam”.
Kesufian Ibnu Taimiyah tidak hanya terbukti dari keilmuannya saja akan tetapi perbuatan dan sikapnya telah membuktikan akan semua ini. Adz-Dzahabi pernah bercerita bahwa dia tidak pernah menemukan orang yang banyak berdoa dan bertawajuh kepada Allah melebihi Ibnu Taimiyah.
Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarus Salikin banyak bercerita tentang Ibnu Taimiyah dalam kerohanian (baca: Tasawuf). Dalam kitab Kawakibud Duriyah bahwa Ibnu Taimiyah pada malam hari sering menyepikan diri dari manusia, dia hanya sibuk dengan tuhannya, banyak bermunajat dan membaca Al-Qur’an. 
Sedang ke zuhudan dan ketawaduan Ibnu Taimiyah adalah tauladan yang baik, dalah hal ini terbukti dengan kata-katanya, “Aku tidak punya apa-apa, dariku tak ada apa-apa dan padaku tak ada apa-apa”.
Itulah pribadi Ibnu Taimiyah dalam suluk dan kerohaniannya, cukuplah kiranya Ibnu al-Qayyim dan karyanya Madarus Salikin sebagai bukti tarbiah Ibnu Taimiyah dalam konteks kesufian.
Tidak hanya itu, Ibn Taimiyah dan murid-muridnya sangat mempercayai adanya karamah para wali. Di sini Baduruddin al-Aini berkata tentang Ibnu taimiyah, “Di samping kemuliaan dan ketinggian Ilmunya, beliau (ibnu Taimiyah) juga mempunyai karamah yang tidak diragukan lagi seperti yang ku dengar dari banyak orang” 
Ibnul Qayyim juga banyak bercerita tentang firasat (mukasyafah) Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, “Aku telah menyaksikan firasat Syaikhul Islam dari hal-hal yang menabjubkan. Sedang hal yang tidak kusaksikan tentu lebih banyak dan lebih agung”.
Dengan demikian tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan kelompoknya anti ajaran Tasawwuf. Adapun kepercayaan-kepercayaan yang mengatas namakan sufi dan tasawwuf akan tetapi bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah tidak hanya Ibnu Taimiyah dan Madrasahnya yang menentang, para sufipun juga menentangnya.
Sebagai seorang intelektual wajar kalau Ibnu taimiyah sering melontarkan kritikan terhadap tokoh-tokoh lain, hanya saja kadang Ibnu taimiyah melampau batas dalam pandangan dan kritikannya sehingga menjadikan dia sebagai sosok yang kontrofersi.

Kontrofersi pemikiran Ibnu Taimiyah.
Pemikiran Ibnu taimiyah sering menjadi ajang polemik di kalangan para Ulama, sejak zaman Ibnu Taimiyah sendiri, dan gara-gara itu dia sering keluar masuk penjara, terutama mengenai masalah-masalah Akidah dan Fiqih. Keberanian Ibnu Taimiah ini tidak hanya berbeda dengan para ulama di zamannya, namun Ibnu Taimiyah juga sering menyalahi Ijma`. Itulah yang membuat ulama di zamnnya geram pada Ibnu Taimiah.
Pemikiran pertama yang menjadi kontrofersi terjadi pada tahun 698 H. Hal itu gara-gara satu fatwa yang dikenal dengan masalah hamawiah. Fatwa ini membuat Qadhi waktu itu turun tangan, yaitu Imamauddin al-Quzwaini. Qadhi itu memberi fatwa “Barang siapa yang mengambil pendapatnya Ibnu taimiah maka dia akan dita`zir.” Pada tahun 705 Ibnu Taimiah kembali membikin heboh yang membuat dirinya kembali masuk penjara, dan pada tahun 709 dia dipindahkan ke Iskandariah, di sanapaun dia jaga mengeluarkan fatwa-fatwa aneh yang dipermasalahkan oleh ulama setempat. 
Begitulah seterusnya Ibnu taimiiyah, dia terus keluar masuk penjara baik ketika dia di Syam atau di Mesir. Dalam beberapa kasus, Ibnu Taimiyah terkesan tidak konsekwen pada pendapatnya, kadang dia mengaku bermazhab Syafii, atau bermazhab Hambali dan kadang dia juga mengaku berakidah Asyairah namun di lain kesempatan dia juga mencaci tokoh-tokoh Asya’irah, seperti Imam Ghazali dan yang lainnya. Tidak hanya itu, Ibnu Taimiyah juga berani lancang mencaci sahabat Nabi 
Oleh sebab itulah, ulama dari masa ke masa senantiasa memperselisihkan sosok dan pemikiran Ibnu Taimiyah, ada yang menganggapnya fasik, ada yang menganggapnya mubtadi` (ahli bid’ah) dan bahkan ada yang menganggap kafir. Tidak hanya para penentangnyya yang mengkritik Ibnu taimiyah, murid-muridnya juga sering berbeda dan menasehatinya, seperti Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi. Bahkan adz-Dzahabi menulis sebuah risalah husus yang berisi nasehat-nasehat agar Ibnu Taimiyah kembali dan bertobat. Surat ini di kenal dengan an-Nashîhah adz-Dzahabiyah li Ibn Taimiyah. 
Penentang Ibnu Taimiyah sejak zaman Ibnu Taimiyah sendiri sampai pada saat ini terus mengalir, mulai dari kalangan fuqaha madzahabil arb’ah sampai para ulama kalam. Sedang yang mengarang kitab yang berisi kritikan pada Ibnu taimiyah juga sangat banyak, seperti as-Subki dan ulama-ulama setelahnya. 

Pemikiran kontrofersi Ibnu Taimiyah
Adapun pemikiran Ibnu Taimiyah yang dianggap bertentangan dengan Ijma`dan mayoritas ahlu sunnah wal jamaah sangat banyak diantaranya adalah:


  1. Keyakinnanya tentang Zat Allah yang mempunyai jasad seperti jasadnya makhluk, duduk seperti duduknya makhluk, bertangan, mempunyai mata dang telinga. Bahkan Ibnu Taimiyah berkata bahwa Allah turun dari langit sebagai mana turunnya dia dari mimbar. Mazhab ini di sebut al-Hasyawiyah al-Mujassamah. Dewasa ini beberapa ulama telah menulis penelitian dan mempelajari pemikiran ini dengan seksama, di antaranya adalah Kasyfu al-Shaghîr ‘an ‘Aqîdah Ibnu Taimiyah, karya Said Fudah, Ibnu Taimiyah Laisa Salafiyan, desertasi Doktor oleh Mansur Muhammad Ghawaiesy, dan Fatâwâ Ibnu Taimiyah fil-Mîzan, karya Muhammad Ahmad Ya‘qubi.
  2. Berani mencaci Ulama dan Sahabat Nabi. Kelancangan Ibnu taimiyah ini membuat nyawanya terancam karena telah berani mencaci Imam al-Ghazali dan pengikut Asya`irah lainnya. Bukan hanya itu, Ibnu Taimiyah beranggapan bahwa Imannya Sayyidina Ali tidak sah, sebab beliau masuk Islam sebelum baligh, dan Iman sayyidina Abu Bakar juga tidak sah karena Abu Bakar beriman dalam keadaan pikun hingga beliau tidak mengerti apa yang di ucapkan. Imam Ali ra. menurutnya memopunyai 17 kesalahan. Dan beliau berperang karena cinta kedudukan. Sedang sayyidina Utsman menurutnya sangat cinta dunia. Dalam kitab Durarul Kaminah dan kitab Fatawa Ibnu Taimiyah fil-Mizan dijelaskan panjang lebar masalah ini.
  3. Inkar terhadap Majaz. Ibnu taimiyah berasumsi bahwa dirinya dengan pemikiran itu berada dalam Manhaj salaf. Sebab sebagaimana yang telah masyhur bahwa ulama dalam menyikapi ayat-ayat musytabihat ada dua kelompak, kelompok pertama adalah Tafwidh (menyerahkan penafsirannya pada Allah sendiri) mazhab ini yang diikuti oleh kebanyakan ulama salaf. Dan kelompok kedua adalah mazhab Ta`wil (mentafsiri ayat musytabihat sesuai dengan keesaan dan keagungan Allah) cara ini dipakai oleh ulama khalaf. Sedang pendapat Ibnu taimiyah dalam masalah ini berkonsekwensi pada pemahaman yang berbahaya dalam memahamii al-Quran dan nama dan sifat Allah, sebab hanya membawa pada pengertian yang mustahil pada zat dan sifat Allah. Adapun pendapat salaf mengenai masalah Tafwidh, salaf tidak mau panjang lebar mengenai masalah ini, sehingga menyerahkan urusan ini pada Allah. Beda halnya dengan Ibnu taimiyah yang berani menafsiri Al-Quran dengan lahirnya saja, sehingga mengakibatkan hal yang fatal.Disamping itu keingkaran Ibnu taymiyah pada majaz dapat menimbulkan pengertian yang salah terhadap teks Syariah, Ibnu Qayyim sendiri sebagai murid setia Ibnu Taimiyah merasa kebingungan menyikapi masalah ini, sebab tidak sedikit dari ulama salaf dan pengikut mazhab Hanafi (Ibnu Taimiyah mengaku bermazhab ini) yang mempercayai adanya majaz dalam al-Quran. Seperti Ibnu Abi Ya`la, Ibnu Agil, Ibnu al-Khattab dan lain-lain sangat menganggap keberadaan majaz dalam al-Quran. Seseorang yang membaca kitab Shawaiq al-Mursalah karya Ibnu Qayyim, maka akan tampak kebingungannya dalam menyikapi pendapat gurunya tersebut.
  1. Ibnu Taimiyah menyalahi Ijma` ulama. Seperti pendapatnya talak waktu haid itu tidak terjadi, masalah ta`liq talak, seorang haid boleh tawaf tampa membayar kaffarat, kata-kata talak tiga hanya terjadi satu dan beberapa pendapat nyeleneh lainnya. Al-hasil banyak pendapat Ibnu taimiyah yang bertentangan dengan mayoritas ulama Ahlu sunnah wal jamaah.
Namun begitu sumbangan Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Islam tidaklah sedikit, maka sikap yang terbaik mengenai Ibnu taymiyah adalah sikap yang disampaikan oleh Syaekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, “Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama besar yang masyhur dari salah satu umat Muhammad, namun begitu dia tidak lepas dari kesalahan” Dalam buku yang sama an-Nabhani juga berkata, “Ibnu taimiyah ibarat lautan besar yang berkecamuk ombak, di mana ombak itu kadang membawa intan permata dan kadang membawa batu dan pasir dan kadang juga melempar kotoran”.


Sumber :  http://ibnujusup.multiply.com

Little story from special region


The special region of Yogyakarta (pronounced: Jogjakarta) is affectionately called Yogya) and is located in Central Java. It consists of five regencies and is one of the 26 provinces in Indonesia.  People have lived in Central Java and Yogya area since over the centuries ago they have been attracted by the rich soil caused by the numerous volcanic eruptions. From 9th century the area was dominated by Hindu and Bhuddist kingdoms that gave rise to the magnificent temples such as Prambanan, Ratu Boko, Kalasan, Sambisari and Borobudur.

In early 18th century, the Muslim Mataram Kingdom was ruled by Paku Buwono II. After he passed away, the kingdom was divided into Surkarta Hadiningrat kingdom under the rule of Sunan Pakubuwono III and Nyayogyakarta Hadiningrat under the rule of Sultan Hamengkubuwono I.

After the independence of Indonesia was proclaimed, Sri Sultan Hamengkubuwono IX and Sri Paku Alam VII launched a statement that the Kasultanan and Kadipaten (the two royal regions) belonged to Indonesia. Since then, it has been known as Yogyakarta Special Region and was given provincial status in 1950 in recognition of its important role in the fight for independence.  In fact, it was the capital of Indonesian Republic from 1946 to 1949.


“Yogya” is one of the principal centers of Javanese culture and is centered around the sultan's kraton (palace). The city has a distinct, traditional Javanese character. From 1946 to 1949, it was the capital of the Indonesian Republic but for now it is the capital of the special territory of Yogyakarta.

Posisi Ekonomi Indonesia


Pertumbuhan ekonomi adalah bagian penting dari pembangunan sebuah negara, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu indikator penting untuk menjelaskan bahwa suatu negara itu mampu secara finansial atau sejahtera. Keberhasilan tidak akan terlihat tanpa adanya hasil riil berupa pertumbuhan dari sesuatu yang dibangun oleh pemerintah di bidang ekonomi, begitu juga tanpa pertumbuhan ekonomi maka pembangunan suatu negara tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Pada kondisi ini, pertumbuhan ditandai dengan masuknya dana kedalam sistem ekonomi suatu negara.

Begitu juga dengan pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini sesudah terjadinya masa krisis ekonomi pada tahun 1998. Kondisi tersebut bukan hanya merusak sistem ekonomi yang terbangun selama dekade sebelumnya tetapi juga aspek lain seperti politik, hukum, dan  pemerintahan. Kita dihadapkan pada banyak pilihan yang sebenarnya tidak mengijinkan kita memilih atas kehendak dan keinginan sendiri. Kondisi ini menandakan bahwa posisi tawar kita tidak menguntungkan baik secara internal maupun eksternal. Secara sederhana, Indonesia memerlukan dana dan dukungan finansial yang besar untuk bisa membangun kembali apa yang sudah hancur dan mempertahankan yang masih ada.

Sejumlah pemikiran untuk perbaikan pun sudah digulirkan, sampai akhirnya pemerintah mengambil pilihan untuk memberikan sebagian hak dan wewenang tersebut kepada lembaga-lembaga finansial internasional dan sejumlah negara lain. Sebenarnya apa yang dibutuhkan? Sederhana, Indonesia memerlukan ‘dana baru’ dalam bentuk investasi. Mengapa harus investasi? Karena secara perhitungan ekonomi saat itu Indonesia tidak mempunyai ‘saving’ atau tabungan untuk meredam gejolak ekonomi saat itu. Oleh karena itu, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan bantuan lembaga finansial internasional dan mengundang sejumlah investor untuk mulai menanamkan modalnya di Indonesia.

Lantas, bila sejumlah dana sudah bisa ditarik masuk ke dalam dan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia sudah pulih, apakah hal itu sudah menjadi bukti bahwa kita sudah berada pada level yang aman? atau apakah status sebagai negara miskin/terbelakang sudah lepas dari kita? ternyata tidak demikian, karena sejumlah konsep mengatakan bahwa kesejahteraan sebuah negara tidak bisa hanya diukur dengan jumlah dana yang terserap, peningkatan GDP, atau kurs mata uang yang menguat, tetapi perubahan kehidupan masyarakatnya. Hal ini pun tidak bisa dinafikan.

Begitu pentingnya peran dan dukungan dari investasi terhadap kelanjutan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat disadari betul oleh pemerintah. Sebab sejumlah proyek infrastruktur membutuhkan dukungan dana yang besar, bukan hanya infrastruktur ekonomi tetapi juga infrastruktur bidang sosial dan kehidupan masyarakat. Peran serta dan dukungan non materiil pun dibutuhkan, di semua level pemerintahan pusat dan daerah, serta di semua level masyarakat kota dan pedesaan.

Permasalahan yang muncul kemudian adalah perubahan dan perbaikan tidak hanya bisa digantungkan pada besarnya dana yang masuk tetapi juga kesiapan/kualitas internal. Peran pemerintah baik pusat maupun daerah sangat penting, ‘nilai jual’ daerah terhadap investor sangat ditentukan oleh kondisi daerah dan nasional. Kondisi yang dimaksud adalah kualitas SDM pemerintah, manajemen pelayanan, kualitas masyarakat, fasilitas dan kemudahan yang diberikan, serta stabilitas politik dan penegakan hukum. Sinkronisasi arah dan kehendak dari pemerintah pusat dan daerah pun mutlak diperlukan. Daerah dengan wewenang dan keinginannya pun tidak bisa dikesampingkan begitu saja, sebaliknya peran pemerintah pusat pun sebagai koordinasi sentral pun perlu ditegaskan kembali.

Refleksi Identitas Mahasiswa


Identitas mahasiswa telah tergadaikan kiranya menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kodisi kekinian mahasiswa. Identitas sebagai manusia berpendidikan menjadi kabur dan terselimuti nuansa hedonis, ketika kampus menjadi ruang untuk memamerkan keintiman dan kemapanan harta yang berlebelkan orang tua. Mahasiswa tak lebihnya hanya menjadi masyarakat fashion show.

Rutinitas kampus bagaikan ritual akademis untuk menunjukan ke eksisan diri. Gaya dan penampilan menjadi focus utama sementara intelektualitas merupakan bagian yang tergadaikan. Intelektualitas dikalangan mahasiswa dapat di ukur dari level Game Online yang di mainkanya. Diskusi, Organisasi dan Membaca teleh ter reduksi kedalam dunia virtual yang maya dan nyata, padahal ketiga komponen itulah yang menjadi pembentuk sikap skeptisme mahasiswa terhadap permasalahan bangsa. Sekarang mahasiswa skeptis menjadi barang langkah dan mahal harganya bagai mencari air di gurun sahara tetapi, tuk menemukan mahasiswa apatis tak perlu membuang waktu dan energy karena mahasiswa apatis dan pasir di laut jumlahnya tak jauh beda.

Mahasiswa disimbolkan sebagi agen perubahan (agent of change) adalah agen yang siap menjadi pahlawan perubahan menuju situasi kebangsaan yang lebih baik. Tetapi ada hal yang aneh dari Refleksi  symbol agen perubahan  pada kalangan mahasiswa khususnya dalam menyelesaikan problem bangsa. Jelan penelesaiaan yang selalu menjadi pilihan favorit adalah demonstrasi yang massif dan anarki mengatasnamakan rakyat, menciptakan kemacetan, menyuguhkan kekerasan, dan merusak fasilitas public tentu saja, mrupakan hal yang sama sekali tidak mencerminkan kemahasiswaanya. Bukanya menyelesaikan masalah malah menciptakan masalah baru. Inilah symbol iluminati jika kondisi kedirian mahasiswa belum dapat mencerminkaan symbol itu. seyogiyanya harus ada pemaknaan kembali tuk meluruskan identitas mahasiswa yang sebenarnya.

Jika di tinjau dari segi etimologis konsep MAHASISWA terdiri dari dua kata yakni Maha dan Siswa. Maha merupakan betuk akan kebesaran dan keaguang serta kemuliaan sasuatu, perpaduan antara maha dan siswa (yang merupakan pelajar), adalah paduan yang strategis dalam stratifikasi keilmuan. Keaguangan, kebesaran, dan kemuliaan yang terkandung dalam konsep mahsiswa harusnya menjadi dasar dalam menjalani kehidupan kemahasiswaan. Maksudnya, keaguangan intelektualitas, kebesaran visi dan kemuliaan ilmu lah yang akan mengantarakan mahasiswa pada makna keberadaan status yang melekat pada dirinya.

Ini merupakan generalisasi dari kondisi mahasiswa, mungkin terdengar subjektif dan naïf ketika yang menuliskan adalah seorang mahasiswa itu sendiri, tulisan ini merupakan bentuk retrospeksi diri atas status kemahasiswaan.

Wassalam……!!  

Krisis Diskusi Pada Mahasiswa


Berdiskusi (discussing, discourse) adalah bertukar pikiran, yaitu membahas sesuatu (topik) dalam kerangka pemikiran para pihak. Berbeda dengan ngobrol atau dialog, berdiskusi mengandung pemikiran, jadi apa yang diutarakan tentunya dipikir dulu. Banyak diantara mahasiswa/I yang masih merasa takut atau malu kalau dipinta pendapatnya peribadi mengenai sebuah isu dalam sebuah forum diskusi . Alasannya bisa macam-macam. Yang pasti kita memang harus belajar memulai sesuatu dari forum yang terkecil, yang sekiranya memiliki nilai tambah bagi kemajuan wawasan kita di kemudian hari. Rung diskusi yang diadakan dikampus-kampus akan memberi peluang bagi kita untuk saling berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang muaranya akan kembali untuk kepentingan kita berupa makin luasnya cakrawala kita memahami dunia.

Kualitas masadepan pemimpin bangsa ditentukan oleh generasi sekarang yang memiliki tekad yang kuat kemauan keras untuk belajar dan berkembang dikampus maupun diluar kampus, mahasiswa yang pandai diskusi, padai melihat peluang masadepan, dan berani meyampaikan kebenaran dengan santun didepan pemimpin yang berperlilaku tidak adil. Itu semua hasil dari proses diskusi, dengan digalangkannya forum diskusi di kampus dengan sendirinya akan hadir tunas-tunas bangsa yang pandai mengkaji sebuah masalah, dan menyiapkan sosok pemimpin masa depan yang mampu memberikan solusi kepada masyarakat yang sedang dilanda kebingungan. Itu semua hasil dari sebuah proses pembelajaran yang dilakukan, dikampus maupun diluar kampus untuk itu Mahasiswa dituntut untuk leibh aktif dalam mendapat kan informasi maupun pengetahuan baru tanpa harus bergantung kepada dosen, karena dengan diskusilah kita dapat memperkaya pengetahuan yang berasal dari sudut pandang yang berbeda.
Dosen hanya akan menajkan cover dari ilmu yang akan disajiakan secara formal melalui kurikulum yang beraku, tugas seorang mahasiswalah yang mengekspoitasi pengetahuan untuk masadepan yang lebih banik. terakhir diskusi kritis mahasiswa adalah soft power yang akan mncerminkan mahasiswa dengan status keilmuanya.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html