Posisi Keadilan Sosial Dan Gempuran Arus Globalisasi Dalam Dunia Pendidikan Di Indonesia



Pancasila merupakan dasar dan pedoman yang kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Merupakan doktrin yang ditanamkan kepada masyarakat indonesia sejak duduk dibangku sekolah dasar hingga mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, cita – cita luhur bangsa Indonesia telah termaktub dalam sila kelima dasar negara ini ialah;  Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam mewujudkan cita – citanya Indonesia telah melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang bahakan dihadapkan dengan dengan suatu Era dimana, batas - batas negara telah di persempit seiring dengan perkembangan tehknologi dan transpotrasi modern atau yang lebih dekenal dengan sebutan Era-Globalisasi.

Keterbukaan informasi dan akses transportasi ke-seluruh belahan dunia membawa dampak ganda berupa dampak yang menguntungkan maupun sebaliknya, peran dan fungsi negara dalam menciptakan harmonisasi kondisi politik, social (ktersediaan akses pendidikan), Hukum dan ekonomi menjadi sangat vital. Ketidak harmonisan kondisi antar unsur – unsur ini, akan memberi ruang yang besar bagi dominasi asing di Indonesia. Era keterbukaan ini pendominasian asing terhadap sebuah negara mewujud kedalam beragam bentuk dan pola baik, pendidikan, budaya, ekonomi maupun undang – undang yang secara khusus merupakan pesanan pihak asing. Dalam aspek pendidkan misalanya, komersialisasi dalam pendidikan, merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh pendidikan kita sekarang ini ialah masalah standardisasi dan internasionalisasi pendidikan. Pendidik dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan sedang dalam keadaan terpesona dengan baku mutu internasional yang mensyaratkan kompetisi yang ketat dalam pencapaiannya.

Globalisasi meniscayakan terjadinya perdagangan bebas dan dinilai menjadi ajang kreasi para pemodal dalam melakuakn perluasan bagi pertumbuhan perdagangan dunia, serta pembangunan dengan sistem pengetahuan. Hal ini berarti bahwa terjadinya perubahan sosial yang mengubah pola komunikasi, teknologi, produksi dan konsumsi serta peningkatan paham internasionalisme merupakan sebuah nilai budaya. Globalisasi, didalam perkembanganya lebih dimaknai dalam konteks globalisasi ekonomi, yakni tersebarnya ekonomi pasar bebas hampir di seluruh dunia. Hal itu dapat terjadi mengingat konstalasi ekonomi-plitik dunia menampikan kapitalisme sebagai kekuatan utama dunia. Sebagai kekuatan tanpa tanding. Kaptalisme sekaligus kekuatan budaya, yang mampu merekonstruksi pola budaya masyarakat dunia. Hal tersebut menunjukan bahwa pemaknaan globalisasi semakin meluas dan majemuk (Aminuddin, 2009 : 247). Dalam hal ini penulis akan mendiskusikan mengenai posisi keadilan social dalam gempuran arus globalisasi khususnya dalam dunia pendidikan.

Berbicara kedilan social dalam konteks globalisasi tentu akan membahas berbagai aspek baik pendidikan, budaya, maupun ekonomi. Sejak lima abad yang lalu perusahaan di negara – negara yang perekonomianya telah maju, meluaskan jangkauan keuanganya melalui aktivitas produksi dan perdagangan (yang semakin intensif di masa penjajahan) ke berbagi dunia. Namun, sejak dua hingga tiga decade lalu globalsasi ekonomi telah semakin mempercepat perluasan jangkauan tersebut sebagai akibat dari berbagai factor, seperti perkembangan teknologi dan terutama kebijakan – kebijakan liberalisasi yang telah menjalar keseluruh dunia.

Aspek – aspek penting yang tercakup dalam proses globalisasi ekonomi adalah runtuhnya hambatan – hambatan ekonomi nasional; meluasnya aktifitas – aktifitas produksi, keuangan dan perdagangan secara internasional serta semakin berkembangya kekuasaan perusahaan – perusahaan transnasional dan institusi – institusi moneter internasional. Walaupun globalisasi ekonomi merupakan proses yang terjadi secara tidak merata, yang mana penigkatan perdagangan dan investasi hanya terfokus di segelintir negara saja namun, hamper semua negara di dunia sangat dipengaruhi oleh proses tersebut(Khor, 2000 : 10).

Arus globalisasi yang menerjang dunia ketiga, khususnya Indonesia akan memberi angin segar bagi para pemodal asing dalam melakukan ekspansi ekonomi di negara - negara bekembang mengingat, kecenderungan masyarakat dunia ketiga yang konsumtif dan mudah terlena dengan rayuan gombal para pemodal asing yang menawarkan kesejahtraan dan kemakmuran bagi negara – negara yang siap menampung atau menagungung resiko eksploitasi sumberdaya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Gempuran arus globalisasi yang merupakan lahan subur bagi kapitlisme meastikan diri dalam eksitensinya menguasai kebutuhan akan pendidikan yang layak dengan menerapkan standar pendidikan elit bagi masyarakat dunia ketiga.

Pendidikan pun pada akhirnya menjadi orientasi pasar. Tuntutan akan teknologi yang berkembang pesat, menyebabkan pemerintah juga jadi kerepotan dan akhirnya mengubah kurikulum pendidikan di Indonesia yang disesuaikan dengan tuntutan era-globalisasi. Tidak mustahil, akhirnya berjamurnya sekolah-sekolah berstandar internasional hingga pembuatan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang kontroversial, dengan kata lain globalisasi menyebabkan bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Indikator ini dapat digambarkan dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 77 Tahun 2007, pendidikan ditetapkan sebagai bidang usaha yang terbuka untuk penanaman modal asing.

Satu-satunya syarat adalah, bahwa pihak luar terbatas menanamkan modal sebesar 49 persen. Inilah dampak dari World Trade Organization (WTO) yang kemudian oleh Mendiknas diberikan izin ke Menteri Perdagangan. Sinyal inilah menggambarkan ambruknya peran negara dalam mengelola pendidikan. Berkurangnya peran negara seolah membenarkan akan kapitalisme yang berwujud pada istilah good governance. Sehingga, pemerintah seminim mungkin tidak ikut campur dalam urusan kebijakan publik, melainkan biarlah bebas mengikuti arus pasar (www.equador-news.com).

Pendidikan seyogianya merupakan hak warga negara yang diatur oleh Undang-undang Dasar 1945. Tuntutan akan sekolah berstandar internasional yang bertujuan memiliki daya saing dalam era globalisasi ini tidak diimbangi dengan analisis sosial masyarakat Indonesia. Sekolah internasional dengan mengedepankan asas bisnis profit oriented, menyebabkan pembengkakan harga pendidikan yang mahal. “Pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang mahal” inilah istilah yang pada akhirnya lahir di masa kontemporer. Muaranya ialah banyak anak bangsa yang harus putus sekolah karena biaya pendidikan yang mahal.

Gejala-gejala komersialisasi tersebut sekarang berdampak besar pada merosotnya kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Dosen lebih disibukkan oleh urusan mengajar. Satu orang dosen tidak jarang harus mengampu 18 – 24 SKS dalam satu semester. Bayangkan saja bagaimana harus membagi waktu, kapan penelitian dan pengabdiannya. Walaupun demikian, beberapa PTN yang berstatus BHMN menyatakan bahwa salah satu keuntungan positif dari perluasan program di perguruan tinggi adalah akses pendidikan relatif jauh tersebar melalui beberapa pintu seleksi masuk.

Salah satu rektor PTN di Yogyakarta bahkan mengatakan bahwa biaya masuk dan operasional pendidikan yang relatif tinggi yang dibebankan kepada mahasiswa jalur khusus telah mampu mendorong subsidi bagi mahasiswa kurang mampu dan dapat menutup kekurangan biaya operasional pendidikan. Dalam konteks ini, implementasi subsidi silang merupakan terobosan jalan tengah yang bagus. Namun, pertanyaannya kemudian, bagaimana jika trend masuk perguruan tinggi ke depan justru semakin didominasi oleh orang-orang yang memiliki kantong tebal? Hampir dapat dipastikan bahwa jumlah mahasiswa kurang mampu yang memiliki bakat luar biasa justru akan semakin tersingkirkan dan prosentasenya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mahasiswa kaya. Walhasil, akses pendidikan terbuka luas, tetapi ketidakseimbangan dan ketidakadilan pasti akan mencuat ke permukaan.

Permasalahan yang muncul akibat komersialisasi pendidikan bukan hanya dirasakan pada tingkat perguruan tinggi saja, SMP dan SMA pun memberlakukan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang tentunya hanya akan dirasakan oleh masyarakat kelas menegah ke atas.

 Dampak social akan stratifikasi pendidikan juga selaras dengan munculnya stratifikasi kedudukan social dalam msayarakat Indonesia. keseluruhan dampak dan factor gempuran arus globalisasi merupakan anasisis dasar penulis akan keprihatianan kondisi bangsa ini. Cita - cita luhur bangsa Indonesia seperti yang termaktub dalam dasar negara kita; Kedalian social bagi seluruh rakyat Indonesia di era globalisasi dan komersialisasi pendidikan nampaknya harus di ubah menjadi keadilan social bagi seluruh elit berkantong tebal.

Wassalam!!

DIALOG SYEH SITI JENAR



Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.
     Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.
Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut;


Tentang Ketuhanan

M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”
S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.

M         ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”
S         ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.

M         ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?
S         ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.

M         ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?
S         ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.

M         ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?
S         ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada  yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.

M         ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?
S         ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.

M         ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?
S         ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!

M         ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?
S         ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.

M         ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?
S         ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.

M         ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?
S         ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.
 
M         ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?
S         ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.

M         ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?
S         ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.

M         ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?
S         ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.

M         ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci ?
S         ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang.  Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.

M         ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.
S         ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.

M         ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?
S         ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah.  Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.

M         ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?
S         ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.

M         ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?
S         ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.

M         ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?
S         ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam.  Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.

M         ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?
S         ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang  sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.

M         ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan  sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?
S         ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.

M         ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?
S         ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi,  jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia.  Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.

M         ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?
S         ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.

M         ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?
S         ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.

M         ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?
S         ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.

M         ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?
S         ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.

M         ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?
S         ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.

M         ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?
S         ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian.  Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas,  maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.

M         ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?
S         ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.

M         ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?
S         ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.

M         ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?
S         ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !

M         ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?
S         ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.

M         ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?
S         ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.

M         ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?
S         ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.

M         ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.
S         ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.

M         ; Maaf saya belum paham Syekh.
S         ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka  berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.

M         ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?
S         ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.

Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.
Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam,  sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html